Orang itu pergi begitu saja setalah menyerahkan bingkisan ini kepadaku. Entah darimana dia berasal akupun tidak tau, yang jelas di atas bingkisan ini tertulis nama “Sulastri”, Budheku. Aku pulang ke rumah setelah mendapatkan ojek dan langsung memberi kecupan di tangan budheku. Hidupku memang sudah sebatang kara, hanya budheku yang masih menemani, dan hidupnya pun sama sepertiku yang tidak memiliki siapa-siapa, entah kenapa dia tidak mau menikah. Sampai sekarangpun dia tidak pernah menceritakan tentang masa lalunya.

“budhe, tadi Sania ketemu orang aneh” kataku kepada budheku yang sedang memasak makan malam. Budheku Cuma tersenyum, seakan tidak merasa heran sama sekali karena memang mereka tinggal di Jakarta, kota dengan seribu jenis karakter. “nih, orang itu ngasi ini ke aku, katanya buat budhe” aku sambil menyodorkan bingkisan tersebut kepadanya.

Dengan pelan-pelan budheku membuka bingkisan tersebut. Tiba-tiba raut mukanya memerah dan meneteskan air mata. Aku tidak berani bertanya, aku hanya bisa terdiam saja. “terima kasih ya nduk, kamu masih mau membawa bingkisan ini.” Kata budheku sambil menghapus air matanya. Ternyata itu adalah surat cinta untuk budheku dari pacarnya yang tidak direstui orangtuanya.

Artikel ini dikutsertakan dalam Kontes Menulis Cerita Mini